Selasa, 04 Mei 2010

Air & Kebersihan Lingkungan: bagian penting dalam misi UNICEF Indonesia

Jika memang ada sisi glamor dalam pekerjaan kemanusiaan, pasti menggali lobang untuk jamban tidak masuk dalam daftar.

Bagi UNICEF, air dan kebersihan lingkungan – pengadaan air bersih untuk minum, masak dan mandi, serta pengadaan sarana jamban yang layak adalah bagian dari fungsi inti program. Dalam situasi darurat, penyakit menular bisa dimulai hanya dengan satu tetes air kotor.

Diperkirakan bahwa bencana tsunami & gempa bumi yang menghantam Aceh telah merusak lebih dari 91% prasarana sanitasi. Prasarana air bersih, termasuk 85% jaringan pipa, instalasi pengolahan air dan fasilitas lainnya hancur.

“Dengan kerusakaan seperti ini, kita semua harus bergerak cepat,” ujar Tim Grieve, staf bagian Air & Kebersihan Lingkungan di kantor UNICEF Banda Aceh. “Hal ini sangat penting – tanpa air kita tidak bisa hidup. Air memang sumber kehidupan.”

Beberapa hari setelah tsunami merusak Aceh pada Desemberr 2005, pakar-pakar kebersihan lingkungan telah turun tangan untuk mendistribusikan air bersih untuk para pengungsi. UNICEF juga mendistribusikan alat-alat untuk memeriksa kualitas air, tangki air dan jerigen air, sabun, ember, jamban darurat dan alat pengolahan air kotor. Staf ahli kebersihan juga bekerja langsung disetiap komunitas. Bahwa tidak ada penyakit menular yang disebarkan melalui air kotor, diare, wabah disentri, atau kolera adalah bukti hening dari cepatnya respon UNICEF.

Setelah fase darurat, pekerjaan tetap berlangsung ditempat dimana para pengungsi tinggal, di sekolah-sekolah dan pusat-pusat komunitas. Sesuai dengan rencana kerja UNICEF 2006, pekerjaan juga dilakukan di wilayah yang tidak terkena dampak bencana tsunami.

Dekat Meulaboh dan sejam terbang dari Banda Aceh, UNICEF bekerjasama dengan para mitranya untuk membangun fasilitas air bersih di 5 sekolah dasar. Sekolah-sekolah tersebut sudah lama dibangung dan tidak memiliki fasilitas air bersih atau tempat cuci tangan.

© UNICEF/IDSA/052/Estey

“Seringkali fasilitas airnya berlumut,” ujar Eka Setiawan, staf proyek Air & Kebersihan Lingkungan UNICEF yang berbasis di Meulaboh. ” Sumber air mengandung kimia diatas ambang batas hingga kami memasang alat pembersih yang layak.”

Sistem pembersih air yang sederhana telah juga dipasang didua SD di Kabupaten Kawai XXVI. Sistem ini pertama menyaring sedimen dari air sumur dan setelah itu kembali membersihkannya dengan campuran anti bakteri. Air bersih tersebut digunakan tidak hanya disekolah-sekolah namun juga dikomunitas masyarakat. Saat ini juga tengah dibuat parit agar air yang lebih dapat disalurkan kesawah.

Di pedesaan Aceh ini, sekolah-sekolah juga sering digunakan oleh masyarakat sebagai tempat berkumpul dalam pertemuan. UNICEF memberikan pelajaran tentang kebersihan & sanitasi kepada anak-anak sekolah agar mereka juga turut aktif menyebarluaskan pengetahuan tersebut kedalam masyarakat. Sejak awal anak-anak diajari agar mencuci tangan dengan sabun, tidak mengkontaminasi air minum dan cara-cara sanitasi yang benar.

Di SD Negri Ujong Tanjong Meulaboh, anak-anak kelas 5 telah sangat memahami prinsip-prinsip kebersihan tersebut.

”Air dari sungai harus digodok,” ujar Agi yang berusia 10 tahun. ”Kita hanya dapat minum air bersih. Kadang kita sendiri bisa bisa membuat air menjadi bersih namun kadang juga harus difiltrasi.”

Anto yang berumur 12 tahun makan langsung dengan tangan, hingga ”aku selalu cuci tangan dengan sabun sebelum makan karena tanganku banyak bakteri. Guruku bilang cuci tangan dengan sabun penting karena jika tidak, aku bisa sakit perut.”

”Memberikan pengetahuan yang fundamental adalah hal yang penting dalam aktifitas kami,” ujar Tim Grieve. ”Jika kita hanya membangun jamban dan menyediakan air bersih tanpa berbicara dengan anak-anak tentang kesehatan, maka jamban-jamban dan fasilitas lainnya akan rusak tidak terawat dimasa mendatang.”

Pada Desember 2005 yang lalu, UNICEF masuk dalam fase baru setelah militer Indonesia menarik balik semua personilnya dari propinsi Aceh dan separatis GAM mengatakan bahwa mereka telah membubarkan personil bersenjatanya. UNICEF kini sanggup bekerja di desa-desa pedalaman di Aceh untuk mereparasi dan membangun prasarana air bersih yang telah rusak selama 30 tahun konflik.

”Kini kami dapat bergerak secara leluasa didaerah yang tadinya tidak dapat kami masuki,” ujar Eka Setiawan. ”Sebelumnya banyak halangan keamanan yang membuat kami tidak bisa membantu masyarakat disana.”

Bekerjasama dengan para mitra nasional maupun internasional, UNICEF telah memulai proyek-proyek pengadaan air bersih dan pengelohan air kotor di komunitas-komunitas yang bertahun-tahun tidak memperoleh bantuan karena konflik internal.

”Kita membantu masyarakat untuk hal yang sangat fundamental dalam hidup mereka,” ujar Tim Grieve. ”Tanpa air bersih, manusia tidak bisa hidup.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar